Wednesday, April 24, 2013

Kurangi Risiko Penyakit Hati dengan Kacang-kacangan dan Bayam

Jakarta - Penyakit hati (fatty liver) dapat timbul sebagai akibat dari obesitas. Jika Anda gemar kacang-kacangan dan sayuran hijau, ada kabar baik untuk Anda. Menurut penelitian terbaru, makan sayuran hijau dan kacang-kacang dapat mengurangi gejala penyakit hati.

Para peneliti yakin konsumsi makanan yang tinggi kandungan vitamin E dapat mengurangi risiko penyakit hati, termasuk yang dibawa oleh obesitas.

"Implikasi penelitian ini memiliki dampak langsung terhadap kehidupan jutaan orang, khususnya orang dengan obesitas yang berisiko terkena penyakit hati," ujar dr. Danny Manor, seorang profesor di Case Western Reserve University School of Medicine in Ohio, Amerika Serikat.

Ia bersama timnya mempelajari sekelompok tikus yang berada di stadium lanjut steatohepatitis non-alkohol. Ini merupakan komplikasi dari obesitas yang ditandai dengan penumpukan lemak dan peradangan dalam hati. Efek ini paling sering terjadi pada orang dengan obesitas yang memiliki tekanan darah dan kolesterol tinggi.

Steatohepatitis non-alkohol ini merupakan bentuk yang paling parah dari penyakit hati dan merupakan penyebab utama sirosis dan kanker hati. Untuk menguji pengaruh vitamin E, tim mempelajari tikus yang tidak diberi vitamin. Didapat adanya peningkatan tumpukan lemak dan kerusakan hati pada tikus.

Efek vitamin E pada kesehatan tubuh sebelumnya memang sulit untuk dipastikan. Namun diyakini sifat antioksidan yang terdapat dalam vitamin E memberi perlindungan dari berbagai kondisi termasuk diantaranya penyakit jantung, kanker, dan Alzheimer.

"Temuan ini diharapkan akan meningkatkan kepedulian orang untuk mengonsumsi vitamin E, karena sebagian besar orang dewasa tidak mengonsumsi vitamin E dalam jumlah yang cukup," lanjut Manor, seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (25/4/2013).

Untuk orang dewasa, kecukupan vitamin E yang dianjurkan adalah 4 mg per hari. Makanan yang mengandung cukup vitamin E antara lain minyak sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran hijau, dan sereal.


Pria Merasa Lebih Seksi Setelah Punya Anak

Jakarta - Saat hamil dan sesaat setelah melahirkan, ada perubahan bentuk tubuh pada seorang perempuan. Tubuh yang lebih gemuk membuat para ibu baru merasa tak lagi seksi. Tapi berbeda dengan pria, mereka justru merasa lebih seksi setelah memiliki anak.

Studi yang dimuat Journal of Gender Studies-lah yang mengemukakan bahwa pria merasa lebih atraktif setelah anaknya lahir. Demikian dikutip dari Today, Rabu (24/4/2013).

Berbeda dengan ayah baru yang suka melihat penampilannya di cermin, dari penelitian diketahui bahwa persepsi perempuan terkait daya tarik tubuhnya setelah punya anak malah menurun. Nah, persepsi pria akan penampilannya kembali ke tingkat normal setelah setahun kelahiran anaknya.

Terapi keluarga, Hal Runkel, menyebut hasil penelitian itu sangat masuk akal. Lumrah seorang pria merasa lebih seksi setelah punya anak karena seolah mereka mendapat pengakuan bahwa dirinya subur, spermanya sehat sehingga bisa membuahi sel telur.

Dalam acara di televisi Today yang dipandu Willie Geist, diketahui para pria bisa menjaga persepsi seksi dalam jangka panjang jika benar-benar menjaga tubuhnya. Namun bagi Runkel, tetap menarik di mata istri adalah yang utama.

Aktor yang juga ayah dari 5 anak, Terry Crews, dalam kesempatan yang sama setuju bahwa pria harus menjaga penampilan untuk tetap menawan. Sebab baginya jika seseorang terlihat baik, maka diri sendiri akan merasa baik. Ketika diri sendiri merasa baik, maka performanya baik. Dan jika performanya baik, maka akan dibayar dengan baik pula.

Menurut Crews memang ada berbagai reaksi yang didapatnya atas penampilannya. Namun umumnya dia mendapat reaksi positif jika berpenampilan baik.

"Itu benar lho," tegas Crews.


Studi: Dokter Lebih Ramah Pada Pasien Kurus

Jakarta - Banyak pasien yang ternyata takut menghadapi ketidakramahan perawat dan dokter di rumah sakit. Menurut sebuah studi ternyata orang gemuk memiliki ketakutan lebih banyak ketimbang mereka yang kurus.

Para peneliti di John Hopkins University School of Medicine di Baltimore, Amerika, menemukan bahwa dokter rumah sakit lebih ramah pada pasien kurus daripada mereka yang kelebihan berat badan. Mereka menemukan bahwa dokter sedikit kurang profesional dalam mendiagnosis atau mengobati penyakit pasien bertubuh besar, tapi sisi buruk itu dapat berubah ketika terjadi komunikasi yang baik.

Dikutip dari Dailymail Rabu (24/4/2013) para peneliti percaya hal ini mungkin terjadi karena para profesional bidang kesehatan kurang menghargai orang gemuk lantaran mereka merasa harus bertindak lebih banyak untuk menolongnya. Tentunya sikap ini bisa berdampak negatif pada kesehatan pasien yang kelebihan berat badan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kurangnya empati antara dokter dan pasien dapat mengurangi efektivitas saran kesehatan. Para peneliti lantas mencari 39 dokter dan jenis hubungan yang mereka bangun pada 208 pasiennya. Rupanya mereka menemukan bahwa dokter memiliki 'hubungan emosional' sedikit lebih jauh dengan pasien yang kelebihan berat badan dibandingkan dengan mereka yang berat badannya normal. Namun tidak ada perbedaan dalam kualitas pengobatan, diagnosis atau saran yang diberikan oleh dokter untuk semua pasien mereka.

Profesor Kimberly Gudzune, yang memimpin penelitian ini mengatakan, "Ikatan dan empati sangat penting untuk hubungan pasien dan dokter."

Menurut Prof Kimberly ketika dokter menyatakan empatinya, pasien akan lebih patuh dalam melakukan rekomendasi medis dan menanggapi konseling perubahan perilaku. Semua elemen ini penting dalam membantu pasien yang kelebihan berat badan dan obesitas untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan mereka.

"Tanpa hubungan itu, Anda dapat melakukan kecurangan pada pasien yang sangat membutuhkan Anda," kata Prof Kimberly.

Tim peneliti juga mempelajari rekaman percakapan antara dokter dan pasien untuk melihat apakah mereka menderita tekanan darah tinggi. Data pribadi pasien, diagnosis, pengobatan yang diberikan, serta bahasa yang digunakan oleh dokter dianalisis oleh peneliti.

Dari penelitian diketahui dokter menghabiskan waktu yang sama saat menghadapi pasien gemuk dan kurus. Dokter juga memberikan nasihat dan pengobatan yang setingkat. Namun, bahasa yang digunakan dokter ketika berhadapan dengan pasien yang kelebihan berat badan mengandung frase jauh lebih emosional sehingga menunjukkan kurangnya perhatian secara umum.

Prof Kimberly pun menambahkan bahwa pasien obesitas mungkin lebih rentan terhadap kurangnya komunikasi dengan dokter. "Studi menunjukkan bahwa dokter mempertahankan sikap negatif terhadap pasien tersebut. Beberapa dokter kurang memiliki rasa hormat pada pasien obesitas yang datang mengunjungi mereka," tambahnya.


7 Manfaat Hebat Ini Bisa Diperoleh dari Lari

Jakarta - Berolahraga terkadang menjadi hal yang sulit dilakukan ketika sudah tenggelam dalam rutinitas dan pekerjaan. Padahal, berolahraga tidak harus melakukan fitness di ruangan tertutup.

Melakukan lari-lari kecil di alam terbuka ternyata memiliki keuntungan lebih yang terkadang diabaikan. Dikutip dari Boldsky, Kamis (25/4/2013) inilah beberapa manfaatnya:

1. Turun Berat Badan

Berjalan memang bertujuan untuk menjaga berat badan Anda sedangkan berlari itu untuk memangkas lebih banyak berat badan sehingga menciptakan penurunan dalam jumlah besar. Inilah latihan kardio yang dapat membakar kalori dan juga membantu mempercepat metabolisme.

2. Baik untuk Lutut

Beberapa masalah seperti rematik bisa jadi menyerang Anda. Ini disebabkan karena kurangnya pelenturan pada otot-otot. Melakukan lari-lari setiap hari adalah tindakan yang tepat untuk menjaganya. Tidak hanya menjaga bentuk tubuh lho, tetapi berlari pun dapat menolong sendi tetap dilumasi dengan baik dan bebas dari rasa sakit.

3. Jantung Sehat

Berlari secara teratur dapat memastikan pengurangan jumlah kolesterol jahat dalam tubuh Anda. Dengan berlari Anda akan menarik nafas dalam-dalam dan memasukkan banyak oksigen ke dalam tubuh. Ini akan menjadi latihan yang baik bagi jantung dan menjaga tubuh tetap energik.

4. Menekan Stres

Berlari akan memberikan rasa kebebasan dan dapat membawa Anda ke tempat-tempat berbeda. Inilah mengapa berlari di luar ruangan dipandang sebagai salah satu anti-depresan.

5. Meningkatkan Konsentrasi

Ketika berlari, Anda berkonsentrasi pada jalan yang sebelumnya dilewati. Hal ini membuat banyak pelari percaya bahwa dengan berlari sama seperti melakukan meditasi. Karena hal ini dipercaya dapat meningkatkan konsentrasi mereka.

6. Mengurangi Risiko Penyakit

Berlari sudah seharusnya dapat mengurangi risiko yang mengancam kesehatan seperti kanker, obesitas, dan asma. Secara umum menjadi seorang pelari dapat membuat anda menjadi lebih sehat.

7. Meningkatkan Stamina

Berlari dapat meningkatkan kekuatan paru-paru. Banyak manusia yang menggunakan paru-paru hanya sekitar seperempat dari kapasitasnya. Nah, ketika berlari, paru-paru akan mengembang dan bekerja lebih keras. Ini akan membuat Anda bernafas lebih baik dan meningkatkan seluruh stamina.

Nah, jika mengalami kesulitan berolahraga, kenapa tidak untuk mencoba berlari kecil setiap pagi sebelum bekerja? Selamat berlari.


Mau Makan Enak? Boleh-boleh Saja Asal Sesuai Jenis Olahraganya

Jakarta - Menurut penelitian terbaru, peringatan untuk tidak makan enak kurang bermanfaat untuk mencegah makan berlebihan. Mengingatkan berapa lama harus melakukan aktivitas fisik untuk membakar kalorinya, malah dinilai lebih efektif.

Penelitian yang dilakukan para ahli dari Texas Christian University tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang diingatkan berapa jam harus olahraga untuk membakar sejumlah kalori cenderung lebih terhindar dari makan berlebihan. Pilihan makan jadi lebih sehat, begitu pula porsinya lebih sedikit.

Perbandingan jumlah kalori dengan lamanya waktu melakukan aktivitas fisik untuk membakarnya akan lebih efektif lagi kalau ditempelkan pada menu makanan. Jadi yang tertulis bukan lagi jumlah kalori, tetapi lamanya waktu untuk membakar habis kandungan kalorinya.

"Jalan cepat adalah sebuah aktivitas fisik yang hampir semua orang bisa menghubungkannya, maka kami tampilkanlah pada menu informasi berapa lama harus berjalan kaki jika ingin membakar kalori pada makanan tertentu," kata salah seorang peneliti, Ashlei James seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (25/4/2013).

Untuk membuktikannya, para peneliti merekrut 300 partisipan laki-laki dan perempuan berusia 18-30 tahun. Ada 3 set menu yang disajikan, yang pertama tanpa lebel, kedua dilabeli informasi jumlah kalori, dan terakhir dilabeli jenis dan lamanya aktivitas fisik untuk membakar kalorinya.

Hasilnya, partisipan yang membaca label informasi tentang jenis dan lamanya olahraga cenderung lebih mampu mengontrol nafsu makannya. Porsi makan lebih sedikit, pilihan menu juga teramati lebih sehat dibandingkan saat diberi makanan dengan label informasi jumlah kalori saja.

Berikut ini adalah beberapa jenis makanan yang terkenal banyak mengandung kalori, beserta label yang menunjukkan jenis dan lamanya aktivitas fisik yang harus dilakukan untuk membakarnya.

McDonald's Big Mac: 490 kalori = 75 menit menjalankan pesin pemotong rumput
Pret A Manger chocolate croissant: 420 kalori = 2 jam jalan-jalan bersama hewan peliharaan
Mars Bar: 260 kalori = 2,5 jam menyiram tanaman di kebun
Es krim magnum classic: 240 kalori = 1 jam jalan kaki dengan kecepatan sedang

Starbucks classic blueberry muffin: 475 kalori = 2 jam melakukan pekerjaan rumah tangga.



Waspada, Pria Gemuk Lebih Gampang Kena Kanker Prostat

Jakarta - Obesitas atau kegemukan telah lama diketahui menjadi pemicu berbagai penyakit berbahaya seperti hipertensi, stroke, diabetes dan serangan jantung. Namun pada pria, sebaiknya lebih berhati-hati. Sebuah penelitian menemukan bahwa pria obesitas rentan terserang kanker prostat.

Penelitian menemukan pria obesitas yang menjalani biopsi atau pemeriksaan jaringan karena terdapat kanker jinak paling berisiko terserang kanker prostat di kemudian hari. Dalam laporan yang dimuat jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, peneliti menyimpulkan bahwa obesitas bisa dikaitkan dengan risiko kanker prostat.

Para peneliti di Henry Ford Health System memantau 494 orang pasien selama 14 tahun setelah menjalani biopsi yang menemukan adanya kanker jinak. Obesitas pada saat biopsi ini ternyata berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker prostat pada pemeriksaan lanjutan sebesar 57 persen.

"Ada kemungkinan tumor terlewatkan oleh biopsi awal, lalu tumbuh dan baru terdeteksi dalam biopsi tindak lanjut. Obesitas harus dianggap sebagai faktor yang penting untuk tindak lanjut setelah menjalani biopsi kanker prostat jinak," kata Andrew Rundle, profesor epidemiologi di Columbia University Mailman School of Public Health seperti dilansir Medical Daily, Kamis (25/4/2013).

Penelitian ini menetapkan hubungan yang lebih kuat antara obesitas dengan kanker prostat dibandingkan penelitian sebelumnya. Tingginya risiko kanker prostat disebabkan karena populasi yang diteliti adalah kelompok yang berisiko tinggi menjalani pengetesan kanker.

Kanker prostat adalah kanker yang paling banyak menyerang pria, sekaligus merupakan penyebab utama kematian nomor 2 akibat kanker pada pria setelah kanker paru-paru. Obesitas sendiri diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai kanker, termasuk kanker esofagus, usus besar, rektum, ginjal, pankreas, tiroid, kandung empedu dan kanker payudara.


Benarkah Cokelat Bisa Picu Jerawat? Ini Jawabannya

Jakarta - Banyak orang mengira makanan penyebab jerawat adalah makanan yang berprotein tinggi seperti telur atau kacang-kacangan. Namun sebuah studi baru dari Belanda mengungkap bahwa cokelat juga dapat memicu munculnya jerawat dengan cara mengubah sistem kekebalan.

Dalam studi tersebut, tim peneliti mengumpulkan sampel darah dari tujuh orang sehat sebelum dan sesudah mereka diminta memakan 1,7 ons cokelat setiap hari selama empat hari. (Masing-masing cokelat mengandung 30 persen kokoa).

Kemudian peneliti dari Radboud University Nijmegen Medical Center ini memapari sel-sel darah partisipan dengan bakteri-bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus.

Ternyata setelah memakan cokelat, sel-sel darah partisipan menghasilkan lebih banyak interleukin-1b (penanda peradangan sistem kekebalan) ketika terpapar Propionibacterium acnes. Hal ini menunjukkan konsumsi cokelat dapat meningkatkan peradangan yang berkontribusi terhadap munculnya jerawat.

Selain itu, cokelat juga dapat meningkatkan produksi faktor sistem kekebalan lain yang disebut dengan interleukin 10 setelah terpapar bakteri Staphylococcus aureus. Padahal Interleukin 10 diketahui dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh saat melawan mikroorganisme sehingga jika kadar interleukin 10 tinggi maka akan tercipta kondisi-kondisi yang menyebabkan bakteri-bakteri tersebut memicu jerawat sekaligus memperburuk kondisinya, kata peneliti.

Namun selain karena lingkupnya yang terlalu kecil, temuan studi ini masih bersifat preeliminer, artinya studi-studi berikutnya sebaiknya melakukan pengamatan lebih mendalam terhadap komponen cokelat (lemak, gula, dll) yang bisa jadi bertanggung jawab terhadap munculnya efek-efek tersebut dan apakah cokelat bebas lemak akan memberikan efek yang berbeda.

Studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 juga menemukan bahwa konsumsi cokelat dapat memperparah jerawat tapi studi tersebut hanya melibatkan 10 pria yang mengonsumsi cokelat murni.

Menanggapi studi ini, Dr. Kanade Shinkai, seorang dokter kulit dari University of California, San Francisco School of Medicine dengan spesialisasi pada pengobatan jerawat mengatakan, "Meski banyak yang mengatakan cokelat, produk susu dan makanan lainnya seperti makanan berglikemi tinggi dapat berpengaruh pada jerawat, tapi sangat sedikit bukti yang dapat menunjukkan pengaruh makanan-makanan tersebut."

"Lagipula mungkin ada beberapa orang yang jerawatnya dipengaruhi oleh pola makan tapi ini tak berlaku bagi semua orang. Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap jerawat, termasuk faktor genetik, hormonal dan konsumsi obat-obatan tertentu," tambahnya.

Itulah mengapa menurut Shinkai kebanyakan dokter kulit tidak merekomendasikan perubahan pola makan ketika pasien mereka mengeluh jerawatan, kecuali jika si pasien yakin makanan tertentulah yang menyebabkan jerawatnya muncul.

Bahkan Shinkai menentang pembatasan makanan tertentu seperti menghindari produk susu karena bahan makanan ini merupakan sumber kalsium dan vitamin D penting. "Yang tak kalah penting manfaat nutrisi dari produk ini lebih besar daripada efeknya sebagai pemicu jerawat," tutupnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Cytokine.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...